Rabu, 10 Februari 2016

Bagaimana denganmu

Bagaimana denganmu?
Apa sudah merasa bersalahkan atas apa yang kau pikir baik. Tidakkah kau berprasangka, jika yang kau lakukan tidak tepat. Hanya membuat suatu celah masalah baru. Ah aku bisa apa..

Bagaimana denganmu?
Apa sudah kau pikirkan bagaimanamu perbaikinya? Dengan kamu yang sedemikian rupa begitu. Apa kau sudah sesali? Apa yang kau canangkan benar kau lakukan?

Bagaimana denganmu?
Jika kamu, alasan mengapa tak ada rasa marah. Tak ada rasa kesal yang berkepanjangan. Tak ada rasa benci yang tertanam di hati.

Bagaimana denganmu?
Sudahkah kau laksanakan ucapmu?
Tak ada tatap, sampai ku lunturkan.
Tak ada pertemuan, sampai ku bisa melupa.
Apa usahamu?

Versimu

Dengan dan tanpa
Aku, kamu yang mana
Dengan dan tanpa
Bagaimana kamu padaku
Dengan dan tanpa
Akan sebuah waktu tak akan menjawab

Kesempatan
Keliru kah kamu

Lakumu, ku tunggu
Menjadi kunci, dari praduga
Aku dekat
Tapi ku coba jauhkan
Agar ku tahu, sejauh mana gapaimu

Dengan dan tanpa
Aku tetap sama
Dulu dan sekarang
Versi berbedaku
Kemarin dan sekarang
Versi berbedamu?

Jika ku lihat lagi sudut pandangnya
Berliku memusingkan
Enggan marah enggan dendam
Mungkin itulah masalahnya
Prahara yang tersambung

Akankah ada versi selanjutnya?

Selasa, 09 Februari 2016

Kau

Pedih
Luka yang tergores ini terlalu dalam
Dengan aku, yang merasa yakin
Ternyata yakin terkena pedih
Luka lalu luka
Pedih yang lalu pedih

-----------

Kemana harus ku berlabuh
Disaat aku tenggelam
Dan kau tenggelamkanku
Tenggelam dalam pilu yang memilu
Tenggelam dalam pedih yang meradang

Kemana harus ku menepi?
Saat kau hempaskan dengan sebuah kenyataan
Apa harus ku percaya lagi?
Disaat semua yang kau canangkan, tak ada benar-benarnya
Saat yang kau bisikan, tak ada fakta-faktanya
Membual layak fasih
Mendarah daging, terbiasa.



Jumat, 05 Februari 2016

Rasa?

Ada rasa yang masih tertinggal
Rasa yang masih ingin dipertanggung jawabkan
Atas aku, yang ternyata masih
Meski sempat terpendam tertumpuk
Tapi rasa itu masih nyata
Masih ada, masih berasa..

Ragu, takut, khawatir, cemas
Menggulung menjadi gumpalan bumerang
Yang kadang akan menghantamku saat pemikiran negatif melipir tak sopan
Betapa tidak, banyak hal yang membuatku sangat bertanya
Mungkinkan inginku selesaikan?
Agar tak ada lagi penasaran penasaran yang bergentayangan

Lebih beda, lebih nyata, lebih mengetuk
Entah apa yang sebenarnya membuat beda
Rasa.. Rasa.. Rasa..
Rasa yang ternyata masih ada
Rasa yang ternyata masih ingin kusanjungi
Rasa yang ternyata belum ku hanguskan

Meski dengki dendam bahkan benci pernah menyelimuti seluruh hatiku; kamu.
Tapi ketahuilah, aku bukan orang pendendam
Tanpa sadarpun, aku telah menghapuskannya sedari lama
Hingga tanpa sadar, dengki murkaku telah habis tertelan waktu

Waktu, waktu menjawab.
Waktu
Kau beriku jawaban, atas akhir dari perjalanan kan seperti apa
Waktu
Kuharap kau terus beriku pertanda
Akan sebuah rasa ini


Jumat, 29 Januari 2016

Kekosongan yang kuisi

Karena cinta itu tau kemana harus kembali
Meski dengan siapa
Meski seberapa lama
Akhirnya kan kembali
Pada yang utama
Hati ini kembali berlabuh
Dengan indah namun tetap hati-hati
Karena cinta itu sebuah jebakan
Tapi bagaimana kita,
Menikmati jebakan itu
Atau tersakiti jebakan itu

-----------------------

Sejak itu mungkin adalah awal
Awal dari segala awal
Awal yang tak pernah berawal
Awal yang belum berakhir
Entah akan berakhir atau tidak

Tapi sejak itu
Permulaan kembali menuliskan kisahnya
Kisah yang telah lama terhenti
Entah bagaimana, semua terjadi lagi
Awal yang membuatku sedikit tertegun
Apakah maksudnya?
Setidaknya, mengejutkan
Kembali dan berawal
Berawal dari permulaan

--------------------

Aku, mereka
Bagaimana bisa?
Aku, mereka
Apakah bisa?
Tidakkah sedikit ada ucapan
Yang tidak tersampaikan

Sedikit sedih menyelimuti pergi
Merasa rindu yang enggan pergi
Seperti petir mengejutkan lalu pergi
Menyentuh hati yang rentan sedih
Aku...
Membuka pintu yang ku kunci sendiri
Entah siapa sebenarnya yang akan datang
Yang pasti, akan ku nanti
Hingga ku tutup lagi sendiri


Chg.


Jumat, 22 Januari 2016

Sekilas, lalu lalang.

Yang tiada, kan silih berganti. Berganti peran, entah berganti posisi. Betapa tidak dengan kehadiran dan kepergian yang sebegitu mendadaknya, menandakan apa dan memberikan dampak apa.

Kita dibiarkan untuk terus menelurusi apa jalan cerita selanjutnya. Pemeran dalam sebuah sandiwara yang tertata dengan rapi. Sebuah kejutan yang kadang tak terbersit. Ada perihal yang masih belum terselesaikan. Terlalu banyak persoalan yang menyatukan bahkan memisahkan
memisahkan.

Memisahkan insan yang beradu argumen. Menyatukan insan yang berani menyapu diri. Menyelaraskan insan yang rela berbagi.

Entah apa dan bagaimana, perjalanan ini. Terasa begitu rumit, namun tak perlu dibawa rumit.

Jangan biarkan angin itu membawamu kemana saja, biarkan kamu yang membawa angin itu, sesuai dengan tujuanmu.

Dengan siapapun.

Minggu, 06 September 2015

Sepenggal kalimat-ku.

"Tak perduli, yang penting ku putar dan ku perdengarkan hingga ku terlelap" - (h.chg)
"Biarkan aku terus mendengarkan lantunanmu hingga akhirnya ku bisa mendengarkan suaramu dari dekat; lagi. Secepatnya " - (h.chg)


"Tak perlu yang sempurna, yang penting selalu ada" - (h.chg)


"Pengakuan itu bagus, tapi tak kalah bagus dengan tindakan" - (h.chg)


"Jika hanya diam di tempat, cepat atau lambat akan hilang terbawa lari yang lainnya" - (h.chg)


"Biar, meski tak jelas. Namun dirimu jelas. Tak semu. Biar, tentang perasaan. Lebih baik, tentang ada dan tidak ada" - (h.chg)


"Perbedaan itu terlihat jelas. Betapa tidak aku sadar secepat kilat" - (h.chg)


"Seperti angin, yang menghampiri bahkan menggoyah kesepian da ketiadaan. Jika ramai dia enggan" - (h.chg)


"Saat hati mulai lancang tertuju pada seseorang, lantas bagaimana bisa hati ditahan, seperti menahan lapar, menyakitkan" - (h.chg)

"Nyata namun semu, itulah kamu. Biarlah tak usah hiraukan" - (h.chg)


"Semakin dalam, aku rindu. Hingga tinta pena habis dan tak dapat menggoreskan lagi pada kertas itu" - (h.chg)


"Tapi setidak-tidaknya, ku nikmati. Meski akan jatuh juga" - (h.chg)


"Ada, dan selalu ada. Membuatku dengan lancang semakin mendambamu" - (h.chg)



"Matahari tak ku lihat lagi, tapi kau masih di tempat yang sama. Melindungi. " - (h.chg)



---

Tinta ini, Tanda.

Kamu tahu, sudah berapa banyak tetes tinta yang kugoresan pada kertas
Menulis tentangmu. Bagaimanamu
Tak terbendung, selalu menjadi sepenggal bahkan lebih kalimat
Ku relakan per tintanya habis
Dan ku ganti dengan tinta yang baru, agar aku tetap bisa menggoreskan-mu pada kertas ini
Kamu tahu, Aku
Sebentar berpikir
Sebentar menulis
Sebentar mengingat
Sebentar menulis lagi
Begitu seterusnya, hingga tak sadar kertasku telah diisi penuh oleh ribuan huruf-huruf.
Kamu itu apa?
Bisa-bisanya dengan mudah menarik seluruh duniaku jadi tentangmu
Padahal sebelumya, dari sejak lama kau adalah Diaryku
Namun sekarang, kuurungkan niatku untuk kujadikan kau Diaryku
Kembali ku goreskan tinta pada kertas sebagai Diaryku
Karena kamu, bukan Diaryku lagi
Melainkan isi dari Diaryku
Sungguh tak lucu bukan?
Biarlah orang menertawakanku
Kamu itu jenaka
Aku suka, sungguh.
Jangan lagi.

(h.chg)