Jumat, 12 Februari 2016

Satu

Mengapa begitu sulit untuk sekedar marah
Mengapa begitu sulit untuk sekedar menunjukan rasa kekecewaan
Mengapa untuk kesal saja tidak mudah

Tidak adakah amarah yang menyarang
Bergemuruh di pelataran hati
Tidak adakah kebencian yang membalut relung
Menggerogoti belah kasih

Bila semua sudah terjadi
Sampaikan padaku, yang di rasa rasa
Hujan takan melunturkan
Panas takan memuaikan
Dingin takan membekukan
Masih terjaga dalam suasana yang netral
Dalam hati, yang tak ku campur adukkan.

Rabu, 10 Februari 2016

Bagaimana denganmu

Bagaimana denganmu?
Apa sudah merasa bersalahkan atas apa yang kau pikir baik. Tidakkah kau berprasangka, jika yang kau lakukan tidak tepat. Hanya membuat suatu celah masalah baru. Ah aku bisa apa..

Bagaimana denganmu?
Apa sudah kau pikirkan bagaimanamu perbaikinya? Dengan kamu yang sedemikian rupa begitu. Apa kau sudah sesali? Apa yang kau canangkan benar kau lakukan?

Bagaimana denganmu?
Jika kamu, alasan mengapa tak ada rasa marah. Tak ada rasa kesal yang berkepanjangan. Tak ada rasa benci yang tertanam di hati.

Bagaimana denganmu?
Sudahkah kau laksanakan ucapmu?
Tak ada tatap, sampai ku lunturkan.
Tak ada pertemuan, sampai ku bisa melupa.
Apa usahamu?

Versimu

Dengan dan tanpa
Aku, kamu yang mana
Dengan dan tanpa
Bagaimana kamu padaku
Dengan dan tanpa
Akan sebuah waktu tak akan menjawab

Kesempatan
Keliru kah kamu

Lakumu, ku tunggu
Menjadi kunci, dari praduga
Aku dekat
Tapi ku coba jauhkan
Agar ku tahu, sejauh mana gapaimu

Dengan dan tanpa
Aku tetap sama
Dulu dan sekarang
Versi berbedaku
Kemarin dan sekarang
Versi berbedamu?

Jika ku lihat lagi sudut pandangnya
Berliku memusingkan
Enggan marah enggan dendam
Mungkin itulah masalahnya
Prahara yang tersambung

Akankah ada versi selanjutnya?

Selasa, 09 Februari 2016

Kau

Pedih
Luka yang tergores ini terlalu dalam
Dengan aku, yang merasa yakin
Ternyata yakin terkena pedih
Luka lalu luka
Pedih yang lalu pedih

-----------

Kemana harus ku berlabuh
Disaat aku tenggelam
Dan kau tenggelamkanku
Tenggelam dalam pilu yang memilu
Tenggelam dalam pedih yang meradang

Kemana harus ku menepi?
Saat kau hempaskan dengan sebuah kenyataan
Apa harus ku percaya lagi?
Disaat semua yang kau canangkan, tak ada benar-benarnya
Saat yang kau bisikan, tak ada fakta-faktanya
Membual layak fasih
Mendarah daging, terbiasa.



Jumat, 05 Februari 2016

Rasa?

Ada rasa yang masih tertinggal
Rasa yang masih ingin dipertanggung jawabkan
Atas aku, yang ternyata masih
Meski sempat terpendam tertumpuk
Tapi rasa itu masih nyata
Masih ada, masih berasa..

Ragu, takut, khawatir, cemas
Menggulung menjadi gumpalan bumerang
Yang kadang akan menghantamku saat pemikiran negatif melipir tak sopan
Betapa tidak, banyak hal yang membuatku sangat bertanya
Mungkinkan inginku selesaikan?
Agar tak ada lagi penasaran penasaran yang bergentayangan

Lebih beda, lebih nyata, lebih mengetuk
Entah apa yang sebenarnya membuat beda
Rasa.. Rasa.. Rasa..
Rasa yang ternyata masih ada
Rasa yang ternyata masih ingin kusanjungi
Rasa yang ternyata belum ku hanguskan

Meski dengki dendam bahkan benci pernah menyelimuti seluruh hatiku; kamu.
Tapi ketahuilah, aku bukan orang pendendam
Tanpa sadarpun, aku telah menghapuskannya sedari lama
Hingga tanpa sadar, dengki murkaku telah habis tertelan waktu

Waktu, waktu menjawab.
Waktu
Kau beriku jawaban, atas akhir dari perjalanan kan seperti apa
Waktu
Kuharap kau terus beriku pertanda
Akan sebuah rasa ini


Jumat, 29 Januari 2016

Kekosongan yang kuisi

Karena cinta itu tau kemana harus kembali
Meski dengan siapa
Meski seberapa lama
Akhirnya kan kembali
Pada yang utama
Hati ini kembali berlabuh
Dengan indah namun tetap hati-hati
Karena cinta itu sebuah jebakan
Tapi bagaimana kita,
Menikmati jebakan itu
Atau tersakiti jebakan itu

-----------------------

Sejak itu mungkin adalah awal
Awal dari segala awal
Awal yang tak pernah berawal
Awal yang belum berakhir
Entah akan berakhir atau tidak

Tapi sejak itu
Permulaan kembali menuliskan kisahnya
Kisah yang telah lama terhenti
Entah bagaimana, semua terjadi lagi
Awal yang membuatku sedikit tertegun
Apakah maksudnya?
Setidaknya, mengejutkan
Kembali dan berawal
Berawal dari permulaan

--------------------

Aku, mereka
Bagaimana bisa?
Aku, mereka
Apakah bisa?
Tidakkah sedikit ada ucapan
Yang tidak tersampaikan

Sedikit sedih menyelimuti pergi
Merasa rindu yang enggan pergi
Seperti petir mengejutkan lalu pergi
Menyentuh hati yang rentan sedih
Aku...
Membuka pintu yang ku kunci sendiri
Entah siapa sebenarnya yang akan datang
Yang pasti, akan ku nanti
Hingga ku tutup lagi sendiri


Chg.


Jumat, 22 Januari 2016

Sekilas, lalu lalang.

Yang tiada, kan silih berganti. Berganti peran, entah berganti posisi. Betapa tidak dengan kehadiran dan kepergian yang sebegitu mendadaknya, menandakan apa dan memberikan dampak apa.

Kita dibiarkan untuk terus menelurusi apa jalan cerita selanjutnya. Pemeran dalam sebuah sandiwara yang tertata dengan rapi. Sebuah kejutan yang kadang tak terbersit. Ada perihal yang masih belum terselesaikan. Terlalu banyak persoalan yang menyatukan bahkan memisahkan
memisahkan.

Memisahkan insan yang beradu argumen. Menyatukan insan yang berani menyapu diri. Menyelaraskan insan yang rela berbagi.

Entah apa dan bagaimana, perjalanan ini. Terasa begitu rumit, namun tak perlu dibawa rumit.

Jangan biarkan angin itu membawamu kemana saja, biarkan kamu yang membawa angin itu, sesuai dengan tujuanmu.

Dengan siapapun.